CRAYON
IMPIAN FIRDA
Perkenalkan, namaku Firda. Aku suka
sekali menggambar dan mewarnai. Sejak kecil aku suka menggambar dan mewarnai.
Entah itu di lantai, dinding, kertas, bahkan baju. Sayangnya, Ibuku tidak
pernah mendukung hobiku ini. Katanya menggambar dan mewarnai membuat pakaianku
kotor dan membuatku lupa diri. Tetapi, walaupun ditentang keras oleh Ibu, aku
tetap suka menggambar dan mewarnai. Itu semua karena kakakku Firas, mendukung
penuh hobiku ini. Hasil menggambar dan mewarnaiku bagus katanya. Diam-diam,
setiap pulang sekolah, kakakku sering mengajakku ke danau yang berada tak jauh
dari rumah. Dia sering menyuruhku menggambar pemandangan sekitar danau atau pun
menggambar dirinya.
Pada suatu hari, saat setelah pulang
sekolah, aku melihat spanduk iklan crayon dekat sekolahku. Saat aku melihatnya,
aku langsung mempunyai keinginan untuk memilikinya. ‘Crayon ini halus, tidak
menghasilkan banyak debu, warna yang dihasilkan juga sangat bagus. Cocok untuk
anda yang gemar mewarnai lukisan.‘. Itu isi dari spanduk crayon yang aku baca.
Tetapi sayangnya harga crayon itu sangat mahal. Tidak mungkin Ibu mau
membelikan crayon itu untukku.
Malam harinya, setelah aku selesai
mengerjakan tugas sekolah, aku menuju ke kamar kakakku. ‘ Tok tok tok ‘ aku
mengetuk pintu kamar kakakku. Setelah beberapa detik, pintu kamar itu terbuka
dan muncul lah wajah kakakku dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Aku pun
masuk ke dalam kamarnya,
“ Ada apa kamu ke kamar kakak Fir? Tidak biasanya? “,
tanyanya.
“ Tidak aku hanya ingin menceritakan sesuatu pada kakak. “, jawabku.
“ Cerita tentang apa? Ceritalah. “, balasnya.
“ Begini, tadi saat aku dalam
perjalanan menuju rumah setelah pulang sekolah, aku melihat ada spanduk iklan
yang mempromosikan crayon terbaru. Crayon itu halus, tidak mengeluarkan banyak
debu, warna yang dihasilkan juga sangat bagus. Cocok untuk orang-orang yang
suka mewarnai seperti aku. Aku sangat ingin memiliki crayon itu tetapi,
harganya sangat mahal. Menurut kakak bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan
crayon itu tanpa harus minta ke Ibu? “, ceritaku panjang lebar.
Kakakku tampak
sedang berfikir sejenak hingga akhirnya dia menjetikkan jarinya tanda mendapat
ide yang bagus
“ Bagaimana kalau kau jual hasil-hasil gambar mu yang menurutmu
paling bagus? “, serunya
bersemangat.
“ Tapi, jual ke siapa? Apakah ada yang ingin membeli gambarku? “,
tanyaku putus asa.
“ Kita mulai dari teman-teman sekolahmu. Kau suka menggambar
anime bukan? Nah, gambar-gambar anime mu itu kau poles saja jika masih ada yang
kurang agar terlihat lebih menarik. Atau kau gambar poster lalu kau jual! “,
jawab kakakku.
Sejenak aku berpikir, menimbang-nimbang kemungkinan lakunya gambar-gambarku
itu. Akhirnya aku setuju dengan ide kakakku. Aku pun kembali ke kamar ku untuk
memilih-milih gambar ku yang kira-kira laku saat aku jual.
Esoknya, saat aku tiba di kelas, aku mencoba untuk
menjual gambarku. Mulai dari teman sebangkuku, Dhara. Saat aku tawarkan gambar
anime, dia langsung antusias melihatnya karena kebetulan dia pencinta anime.
Akhirnya dia membeli 2 gambar ku yang kujual seharga Rp,- 3.000,00
per gambar. Lalu aku berlanjut ke teman-teman sekelasku dan untungnya banyak
yang berminat terhadap gambar ku sehingga penjualan hari pertama sukses
walaupun ada beberapa anak yang mencemoohku karena kegiatan menjual gambar yang
aku lakukan.
Sesampainya di rumah, aku segera
menghitung hasil penjualan gambarku di hari pertama ini. Tadi aku membawa
sekitar 15 buah gambar, berarti hasil yang ku dapat sekitar Rp,- 45.000,00.
Saat aku hitung hasilnya, ternyata pas ada Rp.- 45.000,00. Huhh syukurlah
uangnya tidak tercecer atau hilang. Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk berkali-kali.
Aku tahu pasti itu kak Firas. Aku segera membukakan pintu kamarku dan menyuruh
kak Firas untuk masuk.
“ Bagaimana penjualan di hari pertama? Apakah sukses? “, ujarnya.
“ Hahh syukur Alhamdulillah kak, gambarku laku semua. Aku
membawa sekitar 15 buah gambar dan semuanya laku terjual .
Jika aku menjualnya dengan harga Rp,- 3.000,00 per gambar tidak masalah kan? “, balasku. Kak Firas hanya membalasku
dengan senyum gembira serta acungan jempol.
Setelah beberapa hari aku berjualan
gambar, tak disangka uang yang telah terkumpul sudah mencapai Rp,- 270.000.
Karena kurasa uang itu sudah lebih dari cukup untuk membeli krayon itu. Walaupun masih ada beberapa orang yang
memesan gambarku hihih. Lumayan buat tabungan .
Pada suatu hari, saat Ibuku sedang
tidak berada di rumah, aku dan kakakku diam-diam pergi ke sebuah toko buku
besar yang letaknya berada agak jauh dari rumah. Sesampainya di sana, aku
segera mengambil crayon yang aku incar itu dan 2 buah buku gambar ukuran A3.
Setelah membayar di kasir, aku dan kakakku segera pulang, karena takut jika Ibu
sudah pulang.
Sesampainya di rumah, karena terlalu
asyik bersenda gurau, saat sampai di ruang tamu, kita berdua mendapati Ibu yang
sedang terduduk di kursi tamu sambil membaca majalah.
“ Dari mana saja kamu
Firas, Firda? Hmm? “, tanya Ibuku dengan tenang tetapi nadanya tetap tegas.
Aku
yang sedang menenteng kantung plastik berisi crayon dan buku gambar, langsung
menyembunyikan di balik punggung sambil menunduk.
“ Ibu pergi dan kalian berani
meninggalkan rumah hanya untuk membeli barang-barang tidak berguna itu?! “,
bentaknya sambil membanting majalah itu ke meja.
“ Bu, kapan sih Ibu mau
mendukung hobi Firda? Firda itu punya bakat bu. Ibu tidak pernah kan melihat
hasil-hasil gambar Firda? Seharusnya sebelum menentang hobi Firda, Ibu lihat
dahulu kemampuan Firda dalam menyalurkan hobinya. “, kak Firas berusaha membela
ku.
“ Oh jadi sekarang kamu berani melawan perkataan Ibu? Dirumah ini, jika Ibu
bilang tidak ya tidak! “, balas Ibu kesal sambil menyambar plastik yang aku
sembunyikan di balik punggung lalu ia bergegas keluar.
“ Bagaimana ini kak?
Plastik berisi crayon dan buku gambar itu telah dirampas oleh Ibu. Aku takut
kantung itu akan dibuangnya. “, tanyaku
pada kak Firas. Kak Firas hanya membalas dengan menggedikkan bahunya.
Esok harinya, aku sekolah seperti
biasanya. Tetapi kali ini aku sekolah dengan wajah murung karena kejadian
kemarin. Aku harus mulai untuk berjualan gambar lagi untuk membeli crayon
incaran ku lagi.
“ Kenapa murung Fir? Kalau kamu ada masalah cerita sama aku.
“, tanya Dhara saat aku meletakkan tasku di bangkuku.
“ Crayon aku dirampas oleh, Dhar. “, balasku.
“ Bagaimana bisa? Kau ketahuan membeli crayon oleh
ibumu? “, tebak Dhara
“ Iya. Lalu Ibu marah besar dan ya.. begitulah.. kamu
pasti tahu. “, ujarku. Dhara hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil
mengusap bahuku mengisyaratiku untuk bersabar.
Dirumah saat Firda
masih di sekolah, Ibunya sedang merapikan kamar Firda yang sedikit berantakan.
Saat Ibunya merapikan meja belajar Firda, ia menemukan sebuah map yang
berisikan sangat banyak kertas. Karena saking tebalnya isi map, ia penasaran
dan membukanya. Tiba-tiba kertas-kertas yang berada dalam map berhamburan ke
lantai, terjatuh. Sejenak Ibunya melihat-lihat isi kertas-kertas tersebut
sambil terpana. Isi kertas pertama yang ia lihat adalah gambar sebuah
pemandangan yang sangat indah seperti di potret menggunakan kamera. Isi kertas
kedua adalah gambar seorang wanita tengah duduk di sebuah kursi yang ia yakini
bahwa wanita itu adalah dirinya karena wajah yang tergambar di sana sangatlah
mirip dengan wajahnya. Isi kertas ketiga adalah gambar seorang laik-laki yang
sedang membaca buku di tepi sebuah danau yang ia yakini bahwa laki-laki itu
adalah Firas anak nya karena wajah yang tergambar sangat mirip dengan wajah
Firas. Hingga ia melihat isi kertas terakhir yang berisi tulisan graviti
bertuliskan ‘ Aku rindu pada ayahku tercinta. Seandainya ada ayah tadi pasti ia
membelaku dari bentakan ibu MISS YOU DAD ‘ sejenak ibunya diam
terkaku dan tiba-tiba ia menitikkan air mata dan segera dihapusnya karena
terdengar suara salam Firda dari luar tanda ia sudah pulang.
” Assalamualaikum, Ibu aku pulang!
“, salamku saat sampai rumah. Aku heran biasanya saat aku pulang ibu ada di
ruang tv sedang menonton televisi tetapi kali ini ibu tidak ada dan tidak
menjawab salamku, ibu di mana ya? Tiba-tiba ibu keluar dari kamarku dan
langsung memelukku dengan erat.
“ Firda, maafkan Ibu ya, Ibu sudah berkali-kali
menentang bakat mu. Maafkan Ibu ya nak. Ibu berjanji tidak akan menentang
bakatmu lagi. “, ujar Ibu tiba-tiba sambil menangis. Aku segera melepas pelukan
Ibu dan bertanya
“ Ada apa ibu? Mengapa Ibu minta maaf padaku? “,
“ Ibu sudah
melihat gambar-gambar mu Fir, ternyata gambar mu sangat indah Fir. Ibu bangga
padamu nak. “, jelasnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum dan kembali
berpelukkan dengan Ibu. Diam-diam kak Firas ada di ambang pintu menyaksikan
adeganku dengan Ibu sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya kepadaku.
Seminggu setelah kejadian itu, Ibu
membelikan aku perkakas menggambar dan mewarnai dengan sangat lengkap karena
aku menjadi juara satu di kelas semester ini dan karena ia berjanji akan
mendukung penuh bakatku ini . Saat kak Firas sedang mengambilkan
crayon incaranku, ia tiba-tiba berlari kencang ke arahku dan Ibu yang sedang
berada di bagian kertas gambar.
“ Ibu! Firda! Perusahaan crayon ini sedang
mengadakan lomba menggambar dan mewarnai! Dengan tema alam! Bagaimana jika
Firda ikut? Lagipula hadiahnya juga sanagt keren! “, ujarnya.
“ Benarkah? Ya sudah
Firda, kamu ikut saja lomba itu! Ibu mendukung penuh jika kamu bersedia .
“, ujar Ibu tiba-tiba. Aku hanya mengangguk senang.
Saat aku mengikuti lomba itu, aku
lebih sering keluar rumah untuk menuju danau bersama kak Firas untuk menggambar
pemandangan disekitar danau dan tambahan kak Firas yang sedang duduk di atas
rerumputan sekitar danau sebagai model dari objek gambarku ini. Akhirnya
seminggu kemudian gambar ku sudah benar benar selesai dan segera dikirim ke
alamat perusahaan crayon itu.
Tiba saatnya pengumuman pemenang
lomba diumukan. Aku sangat gugup karena sainganku sangat banyak dan berat. Saat
pembawa acara mengumumkan pemenangnya aku sangat bahagia karena pemenangnya
adalah aku! Betapa senangnya aku, Ibu, dan kak Firas.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar